Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan
membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah
ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya
dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari
penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya
sekuntum bunga yang paling indah di dunia. Itulah Kebohongan orang tua
pada anaknya. Apa bukti bahwa mereka suka berbohong pada anaknya?
Cerita bermula ketika masih kecil, sebut saja si Rio, terlahir sebagai
seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk
makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, sang Orang Tua sering
memberikan porsi nasinya untuk Rio. Sambil memindahkan nasi ke mangkuk Rio, Orang Tua berkata : “Makanlah nak, aku tidak lapar”. KEBOHONGAN
Orang Tua YANG PERTAMA
Ketika Rio mulai tumbuh dewasa, Orang Tua
yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di
kolam dekat rumah, Orang Tua berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa
memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang
memancing, Orang Tua memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera.
Sewaktu Rio memakan sup ikan itu, Orang Tua duduk disampingnya dan
memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan
bekas sisa tulang ikan yang Rio makan. Rio melihat Orang Tua seperti
itu, hatinya tersentuh juga, lalu menggunakan sendok dan memberikannya
kepada Orang Tua’nya. Tetapi sang Orang Tua dengan cepat menolaknya, ia
berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” . KEBOHONGAN Orang
Tua YANG KEDUA
Sekarang Rio sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah
abangnya dan dia, Orang Tua pergi ke koperasi pembuatan kotak korek api
untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel merk’nya, dan
hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan
hidup. di kala musim dingin tiba, Rio bangun dari tempat tidurnya,
melihat Orang Tua masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya
melanjutkan pekerjaanny menempel kotak korek api. Rio berkata
:”Ibu/bapak, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu/bapak masih harus
kerja.” Orang Tua tersenyum dan berkata :”Cepatlah tidur nak, aku tidak
capek”. KEBOHONGAN Orang Tua YANG KETIGA
Ketika ujian tiba, Orang
Tua meminta cuti kerja supaya dapat menemani Rio pergi ujian. Ketika
hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, Orang Tua yang tegar
dan gigih menunggu Rio di bawah terik matahari selama beberapa jam.
Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Orang Tua
dengan segera menyambut Rio dan menuangkan teh yang sudah disiapkan
dalam botol yang dingin untuknya. Teh yang begitu kental tidak dapat
dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat Orang
Tua yang dibanjiri peluh, Rio segera memberikan gelasnya untuk Orang
Tuanya sambil menyuruhnya minum. Orang Tua berkata :”Minumlah nak, aku
tidak haus!”. KEBOHONGAN Orang Tua YANG KEEMPAT
Setelah kepergian
sang ayah tercinta karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai
seorang ayah dan juga ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang
dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga
pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat
kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati
yang tinggal di dekat rumah Rio pun membantu ibu baik masalah besar
maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat
kehidupan keluarga Rio yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibu Rio untuk menikah lagi. Tetapi Orang Tua yang memang keras kepala tidak
mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta”.
KEBOHONGAN Orang Tua YANG KELIMA
Setelah Rio dan abangnya semua
sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya
pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi
untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Abang Rio
yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk
membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau
menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu
berkata : “Saya punya duit” . KEBOHONGAN Orang Tua YANG KEENAM
Setelah lulus dari S1, Rio pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian
memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat
sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya Rio pun bekerja di
perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, Rio bermaksud membawa
ibunya untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati,
bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepada Rio “Aku
tidak terbiasa”. KEBOHONGAN Orang Tua YANG KETUJUH
Setelah memasuki
usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di
rumah sakit, Rio yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung
segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Rio melihat ibu yang
terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang
keliatan sangat tua, menatap Rio dengan penuh kerinduan. Walaupun
senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang
ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh
ibu Rio sehingga ibunya terlihat lemah dan kurus kering. Rio sambil
menatap ibunya sambil berlinang air mata. Hatinya perih, sakit sekali
melihat ibunya dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya
berkata : “Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan” .KEBOHONGAN
Orang Tua YANG KEDELAPAN.
Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibu Rio tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar